11 Mei 2018 - 16:03:55 WIB | Dilihat 100 kali0 komentar

Aku selalu iri padamu, San. Kau memutuskan pilihan-pilihan sulit dalam hidupmu sesuai kata hatimu.

Siang Bersama Lana (JUDUL)
Aku selalu iri padamu, San. Kau memutuskan pilihan-pilihan sulit dalam hidupmu sesuai kata hatimu.
 
APA yang bisa kuingat tentang Lana, selain ia cantik, ceria, dan hangat seperti matahari pukul tujuh? Mungkin, kesadaran bahwa aku bisa begitu merasa terintimidasi—dan karenanya sangat mudah membenci—bila berada di dekatnya.
 
Atau, mungkin juga, tentang secuil rasa rindu yang secara tak masuk akal bermain-main di pikiranku saat kami tak bersama. Segala hal tentang Lana serupa paradoks. Dan hampir saja aku terbiasa menjalani hidupku yang tenang, jauh dari gelombang yang memorak-porandakan, ketika pesan WA-nya masuk ke ponselku. Dan duniaku kacau balau sekali lagi.
 
Ini Lana. Berhenti bersembunyi dariku, San. Aku datang menemui ibumu dan sudah memegang alamatmu. Satu-satunya alasan mengapa aku mengirim pesan ini, alih-alih meneleponmu langsung, karena aku takut kau akan langsung menutup telepon bila mendengar suaraku. (Kau tahu, aku sulit menerima penolakan.) Jadi, sambutlah aku di rumahmu. Sabtu, 23 September. Mungkin siang. Aku tak bisa memastikan jam berapa. Kuharap kau tidak melarikan diri. Saat aku masih berusaha mencerna pesan itu, pesan berikutnya kembali masuk.
 
Sudah TUJUH tahun, San. (Siapa tahu kau pikun atau amnesia.)
Bahkan setelah tujuh tahun, tetap saja ia mampu mengintimidasi. Tubuhku mulai dingin. Aku memutuskan menelepon ibuku.
“Maafkan Ibu, San. Tapi, Ibu pikir, Lana benar. Sudah waktunya kalian tersambung kembali. Bagaimana jika suatu hari kalian berpapasan di jalan dan tidak saling mengenali?”
 
Aku tak peduli. Bila itu terjadi, aku sungguh-sungguh tak peduli. Bukankah memang itu yang membuatku meneguhkan hati untuk keluar dari Jakarta dan menetap di kota kecil ini? Menghindari dan menutup setiap akses pertemuan dengan Lana.
 
Anehnya, Sabtu pagi tanggal 23 September, aku berlari ke pasar untuk membeli seikat sedap malam seharga sepuluh ribu dari nenek penjual bunga langgananku. Ia memberiku bonus setangkai sedap malam yang tak mampu kutolak. Cucunya, seorang pemuda tegap yang baru saja menurunkan puluhan ikatan besar sedap malam dari pick up yang terparkir di depan kios bunga, tersenyum padaku. Pipiku menghangat. Tanpa membalas senyumannya, aku berlalu cepat meninggalkan kios yang menguarkan aroma yang mengingatkanku akan kisah dongeng dan keajaiban di belakangku.
 
Lana akan datang. Dan aku menemukan diriku bersusah payah merapikan rumah dan memasak untuknya. Aku ingat, Lana selalu menyukai sup ikan patin segar, karenanya, itu yang kuhasilkan di dapurku. Ruang makan terlihat cerah setelah aku memasang taplak meja baru bermotif kotak-kotak merah yang kubeli di sebuah toko online beberapa waktu yang lalu.
 
Ruang tamuku pun terlihat putih, bersih, serta beraroma sedap malam yang berkumpul di vas bunga tembaga di sudut ruangan. Aku merapikan ikatan tirai di sisi kanan jendela yang terlihat tidak sama tinggi dengan yang kiri. Aku juga mengelap setitik debu di permukaan meja kaca yang sudah kugosok hingga mengilap sehari sebelumnya. Aku, pada akhirnya, juga menggeser lukisan langit malam yang sedikit miring, yang kusadari sudah mengganggu perasaanku sejak lama. Menjelang tengah hari, aku menatap seluruh bagian rumahku dalam desahan puas.
 
Sungguh menyedihkan. Di hadapan Lana, rasa percaya diriku tak pernah cukup.
Dalam gaun krem halus, panjang sebetis dan bermotif bunga-bunga kecil, aku duduk di ruang tamu menghitung waktu. Angin yang menyelinap masuk dari jendela mengalir di antara helai-helai rambutku. Dinginnya menembus ke dalam pakaian hingga menyentuh kulitku yang tak bisa melemas menanti kehadiran Lana. Aku melirik langit yang terlihat cerah namun tidak terik karena awan putih tebal yang menggantung serupa hiasan dinding.
 
Saat sedang mengamati semua itu, ujung mataku menangkap bayangan becak yang berhenti di depan pagar. Tak berapa lama, dalam langkah-langkah lebar penuh percaya diri, seorang perempuan, tinggi dan langsing dalam balutan jeans dan kemeja putih, memasuki halaman rumahku. Aku tak perlu menunggu tamuku mengetuk atau membunyikan bel untuk membuka pintu. Dalam keheningan yang membawa kenangan masa lalu, kami berdiri tegak saling berhadapan.
 
Tak ada yang berubah tentang Lana. Ia masih (selalu) cantik, ceria, dan sehangat matahari pukul tujuh. Dengan senyum lebar, ia merentangkan kedua tangan, lalu membawa tubuh kami merapat selama beberapa saat.
“Coba kulihat,” ia melepaskan pelukannya untuk menatap wajahku lekat. “Sandra yang manis, lembut, dan feminin. Bahkan parfummu tak pernah berubah.”
 
Ia mengendus di dekat tubuhku. Reflek, aku mundur selangkah menghindarinya. Mata Lana bersinar, dan ia tertawa kecil.
“Apakah kau menyemprotkan parfummu ke seluruh ruangan?”
 
“Tidak. Buat apa aku melakukannya?” Aku menatapnya sedikit jengkel. “Itu hanya sedap malam.”
Mata Lana membesar. Terkesan saat menemukan tangkai-tangkai sedap malam di sudut ruangan.
“Keretamu terlambat. Dan mendengar suara perutmu, aku yakin kau belum mengisinya dengan makanan sejak pagi tadi.”
“Kau salah. Aku sudah makan sekantong keripik.”
Aku percaya.
 
***
 
Usai makan siang yang sepi, kami kembali pindah ke ruang tamu. Duduk berhadapan sambil menikmati angin yang masuk lewat pintu yang kubiarkan terbuka lebar.
“Kau senang di sini? Sendirian. Jauh dari ibumu. Jauh dari keluarga.”
“Aku dan ibuku sudah terbiasa berpisah sejak aku berumur tujuh tahun, kuyakin kau tak ingat bagian itu. Senang? Tidak. Aku bahagia.”
 
Lana memiringkan kepala, seperti berpikir. “Aku selalu iri padamu, San. Kau memutuskan pilihanpilihan sulit dalam hidupmu sesuai kata hatimu. Meskipun, kau tahu risikonya. Kau tak pernah takut berkonflik dengan keluargamu, mereka yang peduli padamu.”
Aku meremas pinggiran gaunku. Kata-kata Lana seakan menjelaskan dengan terang, bahwa di dalam duniaku, yang kupedulikan hanyalah diriku sendiri. Mungkin benar. Tapi, aku memiliki alasan untuk itu. Bagiku, tak ada lagi yang tersisa, ketika orang-orang di sekitarku—keluargaku—menganggap dan memperlakukanku sebagai seseorang yang berada di luar lingkaran. Serupa orang asing yang tak ingin mereka kenal.
 
“Tak perlu iri,” suaraku serak. “Kau bisa mencobanya juga. Tak ada yang menahanmu, kecuali dirimu sendiri.”
Lana menggeleng kuat. “Aku berbeda denganmu! Sejak kecil, ibuku yang selalu menentukan arah hidupku. Apa yang boleh dan tak boleh kulakukan. Warna dan jenis pakaian di lemari. Model rambutku. Pilihan jurusan kuliah. Bahkan, pria yang akan kunikahi. Kau tentu tahu hidup seperti apa yang kujalani.”
 
Tanpa sadar, aku memejamkan mata. Tahu, percakapan ini harus aku hadapi pada akhirnya. Dalam keheningan, ingatanku berputar ke satu masa yang serupa titik hitam kecil dalam peta hidupku. Hari ketika aku meninggalkan rumah yang biasa memelukku untuk masuk ke sebuah rumah asing yang terasa dingin karena jarak yang memisahkanku dengan ibuku. Aku tak pernah tahu, kehilangan yang paling menyakitkan adalah kehilangan rasa aman, saat kau selalu mencemaskan apa yang akan terjadi keesokan hari.
 
“Ayo kita jalan-jalan mencari es krim, Sandra. Hari ini, usiamu tujuh tahun,” ujar ayahku di pagi itu. Ia datang setelah lama menghilang, lalu membawaku pergi dengan mobilnya. Tiba-tiba saja, aku terbangun ketika menyadari mesin mobil berhenti. Keheningan yang ganjil, dan langit dipenuhi warna merah tembaga. Lalu, kegelapan merayap cepat di sekitarku. Tangan dan mulutku lengket karena es krim yang kumakan. Dan di hadapanku menjulang rumah yang bukan rumahku.
“Sekarang, ini rumahmu,” ayahku menegaskan. Ia membawaku masuk dan memberiku pemandangan lain.
“Ini Bunda. Dan Lana.”
Ingatan itu membuatku tersentak, menarik kesadaranku kembali. Aku membuka mata dengan cepat, dan mendapati wajah Lana yang sedang menatapku tajam.
 
“Aku selalu berpikir, kapan tepatnya kau mulai menghilang dari kehidupan kami. Bukan tujuh tahun yang lalu, pastinya. Tapi, jauh sebelum itu. Sejak kau lulus SMA dan memilih kuliah di Malang, kau hampir-hampir tak pernah pulang. Selama ini aku coba melanjutkan hidup. Mencari jawaban mengapa kau pergi. Menyesali beberapa hal yang tak kuubah segera selagi aku bisa.”
“Memangnya apa yang ingin kau ubah?” sergahku, mendadak berdebar.
Lana tak langsung menjawab.
“Kau percaya karma, San?”
Tubuhku kaku. Namun, aku tidak berkomentar apa pun.
“Saat kau pertama kali datang saat aku berusia lima tahun, ibuku berkata bahwa kau adalah kakak yang akan selalu menemani dan mengasuhku. Tentu saja aku sangat senang. Saat itu, aku selalu percaya ucapan ibuku. Kau tentu masih ingat, bagaimana aku selalu bergantung padamu. Mengikuti ke mana pun kau pergi. Merecokimu. Meminta ini dan itu. Tapi, kau selalu sabar menuruti semua keinginanku. Kau tak pernah mengeluh dan memarahiku. Hingga, setelah akalku cukup untuk memahami, aku sadar ada sesuatu yang salah.”
Kata-kata Lana seperti cerita dongeng yang memenuhi kepalaku. Tak bisa kucegah, semua peristiwa masa lalu itu kembali hadir mengusik perasaan..
 
“Kau harus bersikap baik pada Lana. Turuti semua permintaannya. Jangan membuatnya sedih atau marah. Mungkin, dengan begitu, ayahmu akan mengizinkanmu untuk bertemu ibumu lagi. Mungkin, suatu hari nanti ia akan mengantarmu kembali.”
“Ayahmu kini sudah tiada. Ibumu pun sudah pindah dan tak bisa dihubungi. Kau tak bisa bertemu lagi dengannya, Sandra. Kami keluargamu saat ini. Tak perlu mengatakan apa pun tentang pembicaraan kita pada Lana.”
“Lana mencintai pria itu. Biarkan ia bahagia. Jantungnya yang bocor selalu membuatnya lemah. Kau tahu itu, kan? Menjauhlah dari mereka.”
 
Suara isakan keras menyelusup ke telingaku. Di hadapanku, segala keceriaan dan kehangatan yang kuingat dari Lana menghilang. Lana terlihat begitu rapuh. Seperti daun kering yang akan seketika luruh dalam genggaman.
“Oh, Sandra. Aku berdosa padamu. Dan juga ibumu.”
 
“Kau tak mengerti apa yang kau bicarakan, Lana!” Hanya amarah yang mampu menahan air mataku jatuh.
“Biar kujelaskan sejauh mana aku mengerti! Ibuku datang dan masuk dalam kehidupan keluargamu. Lalu, aku lahir. Begitu kecil, biru, dan sakit-sakitan. Ibumu melepaskan ayahmu untuk kami. Lalu, ayahmu juga mengambilmu dari ibumu. Ibuku menjadikanmu orang yang selalu bisa menjagaku. Selalu bisa kusuruh, selalu bisa ia suruh. Ya, Tuhan, setiap memikirkan hal itu, dadaku sempit dan jantungku berdebar kencang. Dan yang paling membuatku sakit…’’
“Hentikan, Lana!” ujarku cepat, meringis ngilu melihat wajahnya yang pucat.
 
“Aku tahu Reka mencintaimu. Tapi, dengan tak tahu malu, aku menawarkan diriku padanya. Kau ingat kalimat itu? Sisters are different flowers from the same garden. Mungkin kau serupa sedap malam yang lembut dan harum, tapi aku adalah bunga matahari yang harus menemukan cahaya untuk arah tujuanku. Dan, saat itu, Rekalah cahaya itu. Meski, kutahu, ia menerimaku lebih karena kasihan, mengingat mendiang adik perempuannya memiliki kondisi jantung yang sama sepertiku. Aku memanipulasi perasaannya. Memanfaatkannya. Tapi, aku tak peduli. Aku mencintainya. Atau, aku pikir, aku mencintainya. Saat kau pergi dengan hanya mengabarkan bahwa temanmu menawarimu pekerjaan di perkebunannya yang entah ada di mana, aku bahkan bersyukur. Tapi, kau pasti tahu, Tuhan tidak pernah tidur.”
Mata kami bertemu. Mungkin, Lana tak pernah tahu cerita bagianku. Reka sangat mengerti, aku teramat yakin dengan perasaanku. Ia sahabat Lana sejak SMP, dan aku selalu menganggapnya teman yang baik. Adik yang baik. Setelah ibu Lana secara terang-terangan memintaku menjauh, aku pergi dan berniat mencari ibuku. Aku hanya bisa mengingat nama kota kecil yang terasa dekat di hati dan pikiran. Aku berkunjung ke sana, menyusuri jalan-jalannya. Mengumpulkan ingatan masa kecilku satu per satu. Lalu, atas izin-Nya, menemukan kembali rumah tempat aku menerima cinta dan kehangatan ibuku. Betul ibuku telah pindah. Namun, walau melewati jalan yang berputar, aku bisa menemukannya lagi.
 
“Sesuatu terjadi menjelang hari pernikahanku. Semacam kesadaran yang datang terlambat. Bahwa aku tak mau menjalani hidupku dengan mengandalkan rasa kasihan orang lain. Aku membatalkan pernikahanku. Kau tahu, San, Reka lebih terlihat lega dibandingkan menyesal. Ia melanjutkan rencana studinya ke Inggris. Ibuku terguncang, tentu saja. Ia tak bisa menerimanya, dan terus sakit di sisa hidupnya. Setelah ibuku tiada, aku baru membaca buku catatan yang ia tulis untukku. Semua rahasianya. Bahkan, alamat ibumu yang ia sembunyikan darimu sejak dulu.”
 
Mata Lana semakin basah. “Maafkan aku, San. Tolong, ampuni juga ibuku. Aku seperti sedang menerima hukumanku. Mengapa hingga kini aku selalu jatuh cinta dan dicintai oleh pria yang salah? Pria-pria yang telah berkomitmen di hadapan Tuhan. Aku tak mau menjalani hidup seperti ibuku, San!”
 
Aku termenung. Mencoba memahami perasaanku sendiri. Berbeda dengan Lana, aku justru sulit merasakan cinta. Kesendirian dan rasa sakit di hati ibuku seperti tanda permanen yang juga tercetak di hatiku. Saat teman kuliahku menawarkan pekerjaan di perkebunan sedap malam milik keluarganya, aku menerimanya lebih karena keingintahuanku pada apa yang harus kuhadapi. Pada tanah, sinar matahari, tangkai-tangkai hijau berbunga putih, dan aroma serupa negeri dongeng dan keajaiban. Aku kenal baik dengan orang tuanya. Dengan neneknya yang selalu setia menunggu kios bunganya di pasar. Dan saat ia mengutarakan perasaannya padaku, hatiku terasa beku. Membuatku tak nyaman dan ingin segera berlari meninggalkan tempat itu.
Lalu, aku menatap Lana. Adikku. Mata kami mungkin menyorotkan hal yang sama. Bahwa kami adalah perempuan-perempuan yang hidup dalam kesepian. ***
 
Pasuruan, Agustus-November 2017
Yulina Trihaningsih, lahir di Jakarta, 22 Juli 1978. Ibu dua putra dan satu putri ini menamatkan kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dari peminatan kesehatan reproduksi. Sangat suka menulis kisah romantis, inspiratif, hingga cerita anak yang manis.
 
Beri komentar
0 KOMENTAR.

Komentar untuk "Aku selalu iri padamu, San. Kau memutuskan pilihan-pilihan sulit dalam hidupmu sesuai kata hatimu."

(harus diisi)